Click If You Want To Know

Sunday, 29 December 2013

Resolution for 2014

   I know it's not my usual time to post my new year resolution. But, I think I don't really have any good time except today. So, I decided to post it this morning.

   New year resolution. Maybe, you can call it new targets for the next period. I don't really have so many targets for next year, maybe because I want to more focus to increasing my totality in a sector, so that in the future, I can target more points. Most of all are the same like this year resolution, but one:

Belajar Mencintai

   Finally, the end of this year is comiiiing! My last course meeting is just the same like the last week in this year. New year, time a new hope, new dreams, new achievements, new records, new spirits, new ambitions, brand new me.

   Dan, tahun ini benar-benar ditutup dengan beragam kegagalan dan kekecewaan yang menguatkan. Alhamdulilah, segalanya pasti ada yang mengatur, dan dari sana ternyata saya belajar banyak hal yang insyaAllah bisa menguatkan saya kedepannya.

   Well, starts from my failure in BEM fac's recruitment. It's not about my failure actually, but it's about the gap between who are failed and who are getting the chance to join in the ministry. It's like I'm going to a memory in the past when I knew who were my friends who could pass the new student selection. It's the same.

   Dari awal saya tahu saya tidak lolos, saya banyak merenung, apa yang salah? Saya mengamati setiap gerak-gerik teman-teman saya yang lolos maupun yang tidak, well, for me it's too much gap. Namun, saya hanya bisa berbesar hati. Positive thinking, kalau ternyata saya (kata kakak angkatan) kurang "menjual" atau memang kurang dari kualifikasi yang dibutuhkan oleh kabinet. Kalau alasan seperti itu saya bisa legowo.

   Then, most of my friends, who is failed joining BEM fac, suddenly they decided to join BEM univ recruitment. And yesterday, I got their good news. Most of them are qualified and they're now BEM univ's members. Really glad to hear that :)

   Entah mengapa saya tidak terlalu tertarik untuk join di BEM univ karena... sebenarnya ada satu niat saya ketika saya bisa mewakili teman-teman di fac. Orientasi saya masih saya ingin mengembangkan fac dan teman-teman semuanya. Saya masih ingin menjadi agen fac yang baik... ceileh. Ya begitu lah. Tapi, meskipun ada hambatan di depan saya, insya Allah saya akan menjadi agen fac yang baik dengan cara dan jalan yang lain. Iya, saya percaya Allah bakal ngasih jalan yang lain. (Yes, and I'm now trying hard for it.)

   Wah, saya jadi banyak curhat dari biasanya. Lalu, apa kaitannya dengan judul postingan saya?

Friday, 6 December 2013

Rindu (Sekali Lagi)

Malam kamu,

Api yang membakar kayu-kayu kering ini semakin lama semakin meredup

Menyisakan abu dan bara api

Serta asap yang terbang di tengah dinginnya udara

Aku merentangkan tangan dan menikmati setiap kehangatan yang tersisa

Monday, 25 November 2013

For Me, You're Still The One

   Rasanya seperti menunggu bus datang di sebuah halte yang dingin dan sepi. Aku yakin ia akan datang, meskipun terjebak macet atau badai salju sekalipun. Atau bahkan mogok di tengah jalan, aku yakin ia akan datang. Jaketku sudah tebal, bootku cukup hangat. Aku siap meskipun harus berhari-hari menunggu. Demi menuju satu tujuan yang sama, I've been ready. Because I believe you're still the one.

   Kau tahu, aku menyukai langit dari semua ciptaan Yang Kuasa. Meskipun gelap gulita, namun titik-titik cahayanya membuat indah. Bisakah kau menghitung banyaknya semua titik-titik itu? Bahkan turus di bumi pun tak akan mampu menampung jumlahnya. Namun, di antara banyak titik itu, hanya ada satu titik yang bahkan dalam kerjapan mata, keindahannya tak berubah. Well, it's you and you're still the one.


Friday, 22 November 2013

Dari Kedua Mata Itu Harusnya Kamu Bersyukur

Dari kedua mata itu kamu melihat,
jutaan bendaran cahaya yang mengombinasi, bersatu padu, membentuk gugusan nampak, membentuk kalung bewarna-warni yang mudah saja kamu sebut pelangi. Dadamu bergetar, senyummu mengembang. Adakah kamu bersyukur atas nikmat Tuhan yang kau kagumi ini?


Sunday, 10 November 2013

Aku Sendiri

Aku terjebak. Dalam lingkaran kata-kata dan asumsi pelik di pikiranmu.
Ya, kamu.

Hanya

   Kamu keterlaluan.

Seharusnya kamu tahu yang sebenarnya. Sebenarnya aku sudah mengatakannya sejak lama.
Maukah kau membuka percakapan lama kita? Atau memang hal-hal seperti ini tidak seharusnya kamu tanam dengan subur di kepalamu? Aku paham, cukup paham.
Ada hal-hal yang memang tidak selalu kamu masukkan dalam memorimu.
Dan kamu terlalu 'jenius' untuk mengingat hal remeh-temeh seperti ini.
Tapi kalau begini, apakah kamu merasa menyesal?

Random Part 7

   I was so surprised when I finally knew that it's been so long time not writing on this blog. So much willingness, but I couldn't make it perfectly. I was so sad that it's far difference, from post in July and post in October, means I have no post in August and September. Well, I've been so busy these days, considering my new academic year, from a freshman student in the university to a "freshman" in the faculty. I've been joining so many activities and never bought credits for my modem, while the signal in my house is quite a!s@d#f$g%h^j&k*l() lah, lol.
   So I made up my blog design again. Into a simple one. Like the old one. Very simple, as you can see. Really an old design. But I always like it. The difference is only the background, now it's a clear sky. Match with the theme of my blog: The Universe of My Mind.

My Radar Couple

   

   Aku kesal ketika membaca sebuah notif yang muncul di tray. Aku sebel sama kamu lagilagiLAGI!

Ya, kenapa kamu mampir hanya sebentar dan membuatku kesal sekali lagi? Seperti tiada habis sifat usilmu yang kau tunjukkan padaku.
   Dan, aku hanya bisa menatap pilu masa depanku, oh itu masa depanku. Ya, yang barusan kamu "hancurkan" itu dengan kata-kata yang membuatku sangat pilu.

Berhentilah

Berhentilah berlari,
   Karena aku benci ketika harus melihat punggungmu semakin lama semakin menjauh. Bahkan kau tak menengok ke belakang untuk sekedar mencari tahu. Kau tak peduli jika suara-suara memanggilmu atau serangga hinggap di punggungmu . Kau terus saja menatap ke depan. Ada apa di depanmu sampai kau tak bisa memalingkan wajahmu?

Berhentilah berlari, aku mohon,
   Kau tak sadar kakiku semakin lama semakin lemah. Napasku tersengal-sengal tak karuan. Tanganku berusaha menggapai pundakmu, tapi jarak tak mengindahkannya. Jika aku jatuh di sini, apakah kau akan berhenti dan berbalik?

Berhentilah berlari. Tengok ke belakang. Lihat aku di sini. Gapai tanganku. Kita berlari bersama.

Friday, 8 November 2013

I Hope You Are Strong Than Ever

   Dua hari yang lalu saya iseng browsing, mencari sebuah e-book modul yang tidak biasa. Ada banyak sekali pilihan e-book yang akan saya cari di sana. Finally, saya download beberapa judul yang menarik perhatian. Salah satunya adalah e-book tentang ilmu forensik. Inti dari isinya yang sekilas saya baca adalah tentang identifikasi mayat. Banyak gambar di sana (bisa dibayangkan deh gambarnya seperti apa kalo udah modul kayak gitu). Pas nggak sengaja nemuin gambar pertama, saya cuman bisa tertegun, jadi seperti ini? jeng jeng jeng. Itu untuk pertama kalinya saya melihat foto asli tanpa blur tanpa sensor tanpa ada yang ditutup-tutupi, seonggok tubuh manusia yang ber'hiaskan' darah, memar, astagfirullah. Beberapa detik setelah  'terpana' melihat foto tersebut, entah kenapa hati saya remuk redam, air mata saya sudah di ambang batas. Saya merasa iba. Saya nggak kuat melihatnya, bukan karena takut, tapi karena saya terlalu tidak tega melihatnya. Selintas kemudian saya berpikir, apa cadaver yang ada di lab-lab kedokteran itu hampir sama seperti itu? Apa jadinya saya jika menjadi mahasiswa kedokteran? Bisa-bisa saya bukannya pengamatan malah nangis gara-gara kasihan lihat tubuh yang tak berdaya itu.
 
   Kamu... tegar ya?

Monday, 14 October 2013

Mawar Putih

   Ceritanya ada mawar putih.
   
   Mawar ini putih bersih, seperti susu. Meskipun tidak sewangi mawar merah, tapi bunga ini mampu memberikan wangi kesejukan hati. Meskipun warnanya tak terlalu mencolok, tapi sanggup mewarnai hari.

   Mawar putih itu tersimpan seadanya di sebuah botol plastik kecil bekas air mineral. Air yang menyokong hidupnya saja air mineral bekas. Meskipun ia hidup seadanya, tapi ia selalu menciptakan ketegaran dan senyuman siapapun yang melihatnya.
   Hidup mawar putih ini terus berjalan seiring berjalannya detik-detik jam yang sahut menyahut diantara keheningan. Sampai akhirnya, si mawar putih tak sanggup lagi menyerap mineral-mineral yang terkandung dalam air yang menyokongnya. Ia pun semakin lama semakin menunduk, layu. Warnanya tak lagi putih bersih, tak lagi indah. Seolah-olah sebuah bencana menerjangnya, begitu menyedihkan, lemah, dan terlihat lebih tua.

   Mawar Putih itu kini hanya terdiam dan menunduk. Putih kini berganti menjadi nila. Kering, tak berdaya, rapuh. Seperti tubuh yang kehilangan jiwanya.

Monday, 1 July 2013

One Year of Mystery of Heartache

   Dari sekian juta manusia di bumi yang membaca judul ini, tidak lebih dari 10 orang yang akan mengerti, bahkan kurang dari 5 orang tentu 'paham'. The day of the heartache.
   First and the biggest question: "What did happen?"
   Saya cuman bisa jawab, "A night of full of mystery that couldn't resolved until now."

love is a ruthless game, unless you play it good and right



Friday, 7 June 2013

Momen Kala Itu




Tiada detik yang aku lewati kala itu tanpa cemas bercampur sejuta kemungkinan yang akan terjadi berdetik-detik setelahnya. Menunggu satu kata yang muncul rasanya bikin gila semalaman. Tapi aku penasaran.

Trying Again Or Not Trying?

   Suddenly, I remember my promise a month ago. I promised to go to the Bank right after my June payment was transfered, and registered. But, look what I'm doing a month after. Sit down in front of my laptop, surrounded by papers, books, notes, etc.
   I thought I would prepare well for the admission test, but now I'm preparing for my final exam. How tragic?

Friday, 17 May 2013

Oscar Wilde's Quotes

   I don't know how I adore these quotes. Made by Oscar Wilde. Since his quote appeared in one of Raditya Dika's book, about unrequited love. And these are the others!

Wednesday, 15 May 2013

"KAMU"


Entah kenapa aku suka sekali menulis tentang "kamu". Subjek yang sebenarnya tak pernah jelas. Yang mungkin bikin sebagian orang merasa dirinya pantas menyandang "kamu".

Saturday, 4 May 2013

Happy (I don't know) Years Old, My Handsome Guy!

   So, it's the third year I post the same post.
   Happy birthday to my handsome guy, Shinichi kudo-kun. :)

   I haven't a great picture of him yet. But, I captured some moments from one of his movie that I love the most. Here we are:

Thursday, 25 April 2013

Tahu Diri

Hai, selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sial pula kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernapas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Wednesday, 24 April 2013

Gadis Berkepang Dua



Ia hanyalah gadis biasa dengan sejuta pemikiran anehnya di kepala.
Yang saya tahu, ia seorang gadis biasa dengan segenggam penuh cinta.
Senyumnya merekah ketika sosokmu hadir di balik pintu tua nan kusam.
Tak ada yang lain di dalam otaknya selain menjangkau wujudmu yang nyata itu.
Tidakkah kau melihat,
langkah cepatnya yang ia kerahkan untuk menggapaimu,
dengan sepasang kepang yang (mungkin) ia ciptakan hanya untukmu?
Tidak pernahkah kau berpikir,
akan sebuah ketulusan yang ia hadirkan ketika ia tersenyum padamu?
Karena ia benar-benar tersenyum, murni dari dalam hatinya.
Tidakkah kau sedikit berbaik hati melihat kesungguhannya?
Karena segenggam penuh cinta itu hanya untukmu.
Masihkah kau tega mencabut pisau yang menancap di hatinya?
Kepang dua itu milikmu, hanya untukmu.
Bukankah itu yang kamu mau?

Sunday, 21 April 2013

Thank You :)

   I've been 19 years 1 month and 12 days years old. And my birthday this year, may I say, it was so awesome, fabulous! I got so many greetings and wishes. Thank you so much, everyone, for the wishes and blessings. May Allah gives the same to you, too.

Thursday, 18 April 2013

Puasa Daud


   Yang saya ingat hanya ketika ia memperkenalkan saya dengan puasa satu ini. Dua tahun yang lalu, ketika saya berdebat dengannya mengenai puasa sunnah (yang sebenarnya tidak terlalu menjadi topik yang penting), saya mengatakan bahwa sebaiknya ia mencoba puasa sunnah Senin-Kamis setiap minggunya. Ia sempat menolak atau entah bagaimana saya hanya samar-samar mengingatnya. Kemudian, ia mengatakan bahwa ia akan mencoba puasa Daud. Saya yang pertama kali mendengarnya terheran-heran. Jujur, saya tidak pernah mendengar puasa satu ini. Kemudian dia menjelaskan kepada saya tentang puasa sunnah ini, puasa yang dilakukan dua hari sekali selama 40 hari, puasa yang pernah dilakukan oleh Nabi Daud. Ya, dia yang memperkenalkannya pada saya. Saat itu, saya merasa ia terlalu buru-buru dalam memutuskan. Menurut saya, sebaiknya ia mencoba puasa Senin-Kamis dulu, baru setelah ia kuat menjalaninya ia mencoba puasa Daud. Tapi, dia adalah anak yang sangat keras kepala.

To A Morning


To a morning
And this is not a story, I won't tell a story. It's a feeling. That I just put it up in words.
I don't know how many morning we've been through. Let me count it. Err... around 669 mornings.
Plus one more morning I just could have in a few hours.
From that many mornings we spent, I can't make an exact count of precious mornings we've been through.
But, there's a picture of a morning. It keeps echoing, keeps playing.
The morning tells me that I should give up. Because I didn't deserve anything.
And I gave up. For some reasons that maybe morning wouldn't understand.

Tuesday, 2 April 2013

Rindu Pagi

Aku suka mengadahkan tangan pada sinar sang mentari,
yang menyambut hidupku sekali lagi,
dan menemaniku di alam sunyi,
membawaku pada kerinduan pagi,
serta syukur yang tak akan pernah berhenti.
Ya, secangkir kerinduan yang tak akan pernah habis,
Apa kabar, pagiku?
Aku rindu kamu.

Puisi Malam Hari

Kita bukannya tak bersuara,
bukan pula tenggelam dalam renungan,
kita sedang berlari,
menuju satu titik dengan koordinat yang bahkan tak bisa disederhanakan,
ada kalanya kita terjatuh,
ada kalanya kita saling menopang,
ada kalanya kita berpegang tangan dan berlari bersama,
menuju satu asa, satu rasa, satu jiwa,
dan semalaman kita mencari,
hingga mencapai satu kurva limit yang tak terdefinisi,
dan saat itu kita terdiam,
koordinat kita takkan pernah sama, takkan pernah satu,
dan kita takkan saling menopang,
tapi semangat kita cuma satu.

Thursday, 21 March 2013

Bermimpi



Cukup dengan membayangkan,
bangunmu sebelum senja beradu di ufuk timur,
air yang membasahi wajah, tangan, kepala, bahkan ujung kakimu,
berdirimu yang tegap dan gagah menghadap Sang Pencipta,
sujudmu yang dalam serta sendu seperti memasrahkan semua isi kepalamu pada bumi,
tanganmu yang terangkat mantap, memohon penuh harap,
suaramu nan merdu yang melantunkan ayat-ayat Kitab Suci,
hatiku mantap. Memilih kamu. Menjadi pelabuhan terakhir perjalanan hati ini.

Bolehkah?




Bolehkah aku tertawa,
pada semesta yang menuliskan pertemua kita di langit?
Bolehkah aku menangis,
pada semesta yang mengajarkanku memendam rasa kecewa?
Bolehkah aku tersenyum,
pada semesta yang menyuruhmu hadir untuk mengusap air mataku?

Monday, 18 March 2013

Obrolan Siang

   Siang itu, seperti biasa, saya dan ibu saling bertukar cerita melalui salah satu chat app. We shared a lot of stories, as we never heard and knew. Sebelumnya, kami sempat saling telpon-telponan dan ibu bercerita tentang ulang tahun salah satu sahabatnya, dan bagaimana beliau beserta sahabat-sahabat yang lain memberikan semacam surprise (well, nggak hanya kita juga lho yang bisa kasih surprise, bahkan ibu-ibu 40 tahunan aja masih jaman ngasih hal semacam begituan), and another story about a trip to Thailand. Setelah itu, kami memutuskan untuk melanjutkan aktivitas masing-masing dan obrolan dilanjutkan via chat
   Just an ordinary chatting and daily questions.

Wednesday, 13 March 2013

Grow A Day Older

See the sunrise
Know it's time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye

Tuesday, 12 March 2013

This Is Why I Love S Note

   And here are my masterpieces from using S Note...

If You're Not The One...



If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?

Cause We Have The Same Radar

   Sesaat, aku kira kita semacam agen Neptunus...

karena seringnya kita berada dalam satu pemikiran,
atau karena seringnya kita melakukan hal sama, padahal kita tidak pernah tahu,

A Package of Love

   Kau tahu cinta yang tulus?

   Apakah cinta yang memandangmu apa adanya?
   Apakah cinta yang membuatmu tak ingin kehilangan?
   Apakah cinta yang membuatmu melebur bersamanya?
   Apakah cinta sehidup semati?
   Apakah cinta yang tak berujung?
   Apakah cinta yang penuh pengorbanan?
   Apakah cinta yang penuh dengan egoisme?
   Apakah cinta sekuat baja?
   Apakah cinta yang selalu ada dimanapun dan kapanpun kamu berada?
   Apakah cinta yang mengalir begitu saja?

   Itukah?

Sunday, 3 March 2013

Amazing Grace - Shinichi Kudo

   Because I have searched the midi of the song and I found nothing at all, so I just want to show you...

   THIS!

Membuang Kenangan


MEMBUANG KENANGAN

            Langit malam ini benar-benar gelap. Tak kutemukan setitik pun cahaya yang biasanya bertebaran tak tentu. Tiba-tiba, aku melihat sebuah gelembung sabun yang melayang-layang menghiasi langit, menggantikan bintang yang menghilang.
            “Aku mau gelembung sabun,” kataku sambil menarik-narik jaket orang di sebelahku. Ia menatapku heran.
            “Udah 18 tahun kok mainannya begituan? Nggak malu?” tanyanya. Aku menggeleng kuat, seperti seorang gadis kecil yang meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia tidak nakal.
            “Baiklah. Ayo kita cari penjual gelembung sabun,” lanjutnya sambil menggapai tanganku untuk membantuku berdiri.
            Alun-alun malam itu sangat ramai. Terang saja karena malam itu adalah malam terakhir liburan, dan juga malah akhir pekan. Kelihatannya semua orang bepikiran sama dengan kami berdua untuk mendatangi tempat ini untuk menghabiskan malam ini.
            Kami berdua berkeliling alun-alun untuk mencari penjual gelembung sabun. Tak lama, kami menemukannya. Aku memilih cairan yang berwarna biru dan segera membukanya dengan semangat.
            “Berapa, Bu?” tanyanya.
            “Dua ribu aja, Mas,” jawab si Ibu. Ia segera membayar dengan selembar uang dua ribuan.
            “Lihat, lihat! Aku bisa buat gelembung yang besar!” pamerku sambil memamerkan gelembung yang cukup besar yang baru saja aku tiup. Ia tersenyum lebar.
            “Yang bagus itu gelembungnya yang banyak dalam sekali tiup, bukan besar-besaran gelembung.” Aku tertawa malu.
            “Biar deh. Aku lebih suka membuat gelembung yang super besar,” jawabku sambil memeletkan lidahku. Kali ini ia yang tertawa.
            Kami kembali jalan menyusuri trotoar alun-alun kota. Sesekali aku meniup gelembung tersebut dan kadang ada beberapa anak kecil yang mengikuti kami, memperhatikanku meniup gelembung-gelembung tersebut. Kami berdua sama-sama tersenyum. Malam itu, kami berdua hanya bisa terdiam lama. Sangat lama. Sampai akhirnya kami duduk di pinggir sebuah lapangan yang ramai akan remaja-remaja yang sedang bermain basket. Dan aku tetap sibuk dengan kegiatan meniup gelembung sabun.
            “Nggak seru, ya, nggak ada bintang,” sahutku. Ia melihat ke arah langit.
            “Iya, kosong,” jawabnya dengan sedikit mendesah. “Kamu nggak kedinginan?”
            Aku menggeleng. Tapi sedikit ragu. Sebenarnya angin malam ini lebih keras daripada angin malam-malam sebelumnya.
            “Aku yang kedinginan,” katanya sambil tertawa kecil. Aku tersenyum. “Tumben?”
            “Soalnya nggak ada bintang,” jawabnya kemudian sambil tetap memandang langit hitam.
            “Apa hubungannya?” heranku.
            Ia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Rasanya lebih dingin aja.”
            “Ha ha ha, alasan non sense,” kataku sambil melanjutkan kegiatan meniup gelembung sabun. Ia tersenyum dan kemudian memandangku.
            “Ah, jadi pengen buat teleskop kecil seperti dulu. Kita buat, yuk!”
            “Mauu! Ayo kita buat teropong bintang!” teriakku bersemangat.

            Alarm di sebelahku akhirnya sanggup membangunkanku setelah lebih dari setengah jam ia berteriak di samping telingaku. Sepertinya mimpiku terlalu indah sampai aku tidak menyadarinya. Dan, aku baru tersadar bahwa aku tertidur di lantai bersama beberapa barang yang berserakan. Di genggamanku terdapat sebuah botol dengan cairan berwarna biru. Aku memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya otakku benar-benar menyala. Aku hanya bisa mendesah dan mengembalikan barang-barang yang berserakan tersebut kembali ke kotak asal. Dan aku memindahkan tubuhku ke kasur terdekat. Benar-benar pendaratan yang sempurna karena aku mulai merasa nyaman. Tapi, aku tak bisa kembali tidur. Otakku menari-nari, tidak, memori itu mulai menari-nari indah. Aku memeluk guling dan menundukkan kepalaku. Aku sudah tidak kuat.
            Pagi ini aku siap dengan laptop yang menyala dan secangkir susu panas untuk memulai aktivitasku. Begitu aku akan mulai mengerjakan laporan yang berserakan di meja, sebuah pesan masuk melalui handphone-ku. Dari Vino.
            Vino: Udh tw nilai lu belom? Gw skg ada ddpn papan pgumuman nih. Mw diliatin kaga?
            Aku terhenyak. Me: Nilai apa, Vin?
            Agak lama setelah itu, handphone-ku berbunyi sekali lagi. Vino: Kalkulus.
            Damn! Bahkan pagi ini aku tidak diberi kesempatan untuk mengerjakan laporan yang sedang menumpuk ini. Aku buru-buru mengambil jaket dan keluar menuju kampus. Sebelum itu, aku masih sempat membalas pesannya.
            Me: Kaga usah... gw bs liat sndiri. Thanks Vin!
            Kost-anku dengan kampus tidak seberapa jauh. Mungkin lima menit berjalan biasa sudah sampai. Tapi, jika aku berjalan segini cepatnya, tiga menit adalah waktu terlama yang kubutuhkan untuk sampai di tempat. Mudah saja mencari papan pengumuman kalkulus. Begitu aku sampai di sana, puluhan anak sedang berebut melihat nilai mereka. Aku melihat sekeliling, tapi tidak melihat batang hidung Vino. Anak itu memang mudah sekali menghilang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung bergabung dengan puluhan anak lainnya. Cukup sulit untuk mendesak masuk karena mereka yang di depan tidak segera beranjak dari tempatnya.
            Setelah mengarungi ‘arus’ manusia yang super padat, akhirnya aku bisa melihat deretan kertas pengumuman di depan mataku. Sambil megap-megap karena kekurangan oksigen, ditambah disebelahku ada anak super gendut yang juga menerobos masuk, aku mencari namaku di deretan nama-nama mahasiswa lain. Begitu aku menemukan nilaiku, aku segera memberontak keluar dari gerombolan itu. Aku bersyukur karena akhirnya mendapat oksigenku kembali dan nilaku tidak seburuk yang aku duga. Aku kembali ke kost-an dengan muka ceria.
            Begitu aku sampai di kamar, sebuah pesan masuk kembali.
            Vino: Udh lihat nilai? I guess you have...
            Me: Yes, I have :) how’s your score? I guess it’s perfect as usual...
            Vino: LOL. Well, I’m just lucky as usual.
            Aku tersenyum. Ia selalu merendah seperti itu.
            Me: Hey, I didn’t see you there. Where have you been?
            Vino: I have something to do as soon as possible, so I left quickly.
            Aku sedikit kecewa membacanya. Padahal aku sangat berharap untuk bertemu dengannya. Tapi sepertinya ia selalu sibuk seperti biasanya. Well, I can’t lie that I miss to see him so much.

            Adeala terkejut melihatku masih berkutat di depan laptop dengan kopi yang tinggal setengah cangkir. Kamarku sangat berantakan dan aku tidak sempat untuk membereskannya. Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan Adeala adalah berdecak, kemudian memanggil namaku seperti emak-emak tukang gosip.
            “Emmaaaaa! Betah banget kamar berantakan begini. Ya ampun, gimana kamu bisa hidup sehat kalau lingkunganmu kotor? Lihat, bekas sarapanmu masih di sini, nggak langsung dibuang aja sih? Kamu itu jorok, Emma,” katanya menasehati. Sayangnya, aku sudah kebal dengan segala nasehat itu. Dan seperti biasa, aku hanya bia menjawab, “Iya, gue tahu.”
            “Emma, kamu harus keluar kamar sebentar. Menghirup udara segara bisa me-refresh otak kamu yang suntuk. Percaya deh,” sarannya yang aku anggap sangat brilian.
            “De, pinter juga kamu, ya? Okedeh, bentar lagi aku pindah ke teras depan sambil bawa laptop setelah masak air buat kopi. Aku butuh lihat bintang, nih, biar nggak suntuk,” kataku diikuti dengan gelengan kepala Adeala.
            “Emma, no coffee, please! Kebanyakan kopi nggak baik untuk kesehatan. Kamu cuman butuh udara segar aja untuk bisa melek. Tapi, jangan terlalu malam juga kamu mengerjakan laporan-laporan itu. Tubuh kamu butuh istirahat. Metabolisme tubuhmu...” aku segera menyumpalkan headset ke dalam kedua telingaku sementara Adeala terus berkicau. Aku mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai, membuang sampah-sampah, memanaskan air di heater sambil menuangkan sebungkus kopi ke dalam cangkir yang masih terisi setengah gelas kopi. Aku suka sekali dengan kopi. Yes, I’m addicted to it. Sepertinya aku sudah kecanduan kafein.
            “Emma, you don’t listen to me, do you?” tanya Adeala setelah melepas satu buah headset dari telingaku. Aku tersenyum sambil menggeleng. Sekali lagi Adeala mendesah putus asa.
            “Emma, jangan memaksakan diri,” kata Adeala kemudian dengan nada yang lebih halus.
            “All I need is only making it done, Adeala,” kataku sambil mengambil posisi pewe-ku di teras depan.
            “Tapi ingat tubuhmu juga, Emma. Kalau kamu sakit, kamu nggak bakal bisa menyelesaikan tugas-tugasmu, kan?”
            Aku mengangkat tangan. “Oke, aku menyerah. Aku akan segera selesaikan tugas-tugas ini. SEGERA,” aku memberikan penekanan pada kata terakhirku. Adeala hanya menggelengkan kepalanya. “But, no coffee.” Adeala langsung merebut gelasku. Aku hanya bisa menyaksikannya dengan pasrah.
            Sebelum aku mulai mengetik, aku melihat lautan bintang di atasku. Sangat indah dan sungguh membuatku terpana sekaligus lega. Otakku seketika langsung mencair dari kebekuan. Namun, kebekuan itu digantikan oleh memori-memori hangat yang sejak dulu meluap di otakku. Aku ingin menangis, tapi air mataku benar-benar tertahan.
I need Vino to be here.

         “Kamu jangan pernah ragukan perasaanku ke kamu. Aku selalu sayang sama kamu, asal kamu tahu itu,” jelasnya dari seberang telepon. Aku mengusap air mataku.
            “Tapi kenapa kamu malah ninggalin aku? Kamu kira setelah ini kamu bakal sendiri terus? Kamu bakal punya cewek lagi, kan? Jangan-jangan emang iya kamu lagi suka sama cewek lain sekarang,” isakku. Lawan bicaraku hanya terdiam.
            “Bukan begitu. Ada alasan lain dan nggak bisa aku jelaskan di sini. Aku harus ketemu kamu.”
            Kali ini aku yang terdiam. Waktu terus berjalan dan aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku tidak akan bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat ini.
            “Aku cuman sayang sama kamu. Aku cuman mau kamu. Dan aku nggak akan pernah ngelakuin hal seperti itu. Kita lihat aja nanti,” tambahnya. Aku semakin terdiam.
            “Kamu mau percaya, kan, sama aku?” tanyanya kemudian. Aku masih terdiam. Aku menundukkan kepala dan menelan ludah.
            Setelah mengucapkan basmalah, dengan hati yang penuh aku menjawab, “Aku percaya.”
            Tapi aku tak tahu apakah aku telah membuat keputusan yang benar. Atau malah kesalahan yang fatal.

            Adeala kembali menemukanku di dalam kamar dengan keadaan berantakan. Tapi, kali ini berbeda. Aku mengeluarkan semua barang-barang yang selama ini aku simpan di dalam lemari bagian bawah. Adeala melihat benda-benda itu satu per satu.
            “Apa ini?” tanyanya heran.
            Aku membuka masker hidung dan menjawab sambil tersenyum, “Ini semua memori, De.”
            Adeala mengernyitkan dahi. Tapi kurasa, ia paham maksudku. Ia mungkin tidak terlalu paham apa yang aku lakukan. “What are you doing?”
            “Membuang kenangan,” jawabku singkat sambil terus membereskan benda-benda itu, memasukkan mereka satu per satu ke dalam kardus. “Aku sudah nggak tahan, De.”
            Adeala hanya bisa terdiam memandangku. Kemudian, ia memungut sebuah botol dengan cairan berwarna biru. “Gelembung sabun. Aku sudah lama nggak main yang beginian,” sahutnya sambil meniupkan gelembung sabun itu. Aku menghela napas.
            “Kamu mau? Tapi sayangnya, benda ini juga harus dibuang,” kataku sambil merebut botol itu.
            “You are doing the right things, Emma. Kamu harus benar-benar move on. Your past is just a past. You have to see the bright future. Lagipula kamu punya Vino, kan, sekarang?” kata Adeala lagi. Aku diam sejenak dan kemudian mengangkat kedua bahuku.
            “Aku cuman suka sama Vino. Nggak pernah lebih dari itu. Lagipula dia cerita sendiri kalau dia sekarang lagi suka sama cewek. For him, I’m just his nice-friend-to-talk-to. Nggak lebih dari itu. Sedih, ya?” kataku menahan air mata yang mendesak untuk jatuh.
            Adeala memelukku dari belakang. “You are the strongest girl ever, Emma. Proud of you so much.”
            Aku balik memeluknya. “Aku nggak sekuat yang Adeala bayangkan. Adeala nggak tahu bagaimana rapuhnya Emma, kan? Hanya saja Emma bertahan demi orang-orang yang benar-benar sayang sama Emma.”
            Aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku. Hatiku seperti meledak dan aku merasakan kesakitan yang kesekian kalinya dalam beberapa waktu terakhir. Berbagai kenangan kembali muncul seiring dengan jatuhnya air mata. Aku benar-benar berharap kenangan-kenangan itu juga jatuh sederas air mata yang mengalir ini yang kemudian menguap pergi.


Amazing Grace

  1. Amazing Grace
John Newton (1725-1807)

  1. Amazing grace! How sweet the sound
    That saved a wretch like me!
    I once was lost, but now am found;
    Was blind, but now I see.
  2. ’Twas grace that taught my heart to fear,
    And grace my fears relieved;
    How precious did that grace appear
    The hour I first believed.

Saturday, 2 March 2013

Memory of March

   Welcome to the journey of March.

   Seems like the weather is friendly today. It was my first time I saw the blue sky through my window, and the clouds playing around with the wind above. I felt another happiness, another peace, and another spirit. Well, brand new month in this semester. Even I've been just 3 weeks here, but a lot of things did happen last month. Feels like I've passed another six months here. And I'm still in love with the rain in Bogor. Really peaceful.
   Talking about March, well, in the beginning of this month, I have to meet with quizez, homeworks, teamworks, discussions, and many other tasks to do. It's one of the toughest month in 2013. Brand new semester is absolutely brand new experiences. Well, since the inter department courses finally join this semester, I have more friends from my real department, Agribusiness. I think they are fun enough and I can't wait for the real agribusiness course next semester.

   Talking about March...
   Well, they remind me of my High School memory...

Wednesday, 20 February 2013

Tuesday, 19 February 2013

Untuk Seorang Adik

   Well, I made this short story based on what was on my mind as a sister that dreamed to have a nice and great brother like on the story. Yeah, well, for a little sister who has a lovely brother, this story is for you. :)

   Enjoy reading.

Friday, 15 February 2013

Kesetiaan Itu...

Kesetiaan itu bukan seberapa sering kamu bersamanya.
Kesetiaan itu bukan seberapa lama suatu hubungan bertahan.
Kesetiaan itu bukan sepanjang apakah jalan yang kita tempuh bersama.
Kesetiaan itu bukan seberapa besar cinta yang ada.
Kesetiaan itu bukan seberapa erat kamu memeluknya.
Kesetiaan itu bukan sedetail apa kamu mengetahuinya.
Kesetiaan itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
Kesetiaan itu bukan hanya kata-kata.

Tapi kesetiaan itu...

For A Friend

   I know how hurt when you lose your boyfriend. I know how deep the sadness is. But, if I may choose, I'd choose to loose my boyfriend better than my friends, or even my best friend. You know how hurt is it? BERRY HURT.

   Yeah, that's what I feel now.

I'm Not Falling In Love, Just...

   Do you know what I usually do when I enter the classroom?

   Mataku menyapu ruangan, mencoba menemukan satu sosok diantara ratusan anak, bukan bangku kosong  yang akan saya tempati.
   Sosok yang sebenarnya dari pintu pun aku ragu bisa menemukannya. Apalagi sosok itu lebih sering terhimpit di bagian tengah agak pojok. But, I still can't find it.
   Ternyata, aku lebih sering mendapati sosok itu memasuki ruangan beberapa menit sebelum kelas dimulai.

   Ya. Siapa lagi kalau bukan kamu, yang lebih suka datang di belakang dosen layaknya pengawal sejati?

Monday, 4 February 2013

I'll Keep Imagining!

   Aku sering membayangkan sesuatu. Entah hal-hal yang sepele, hal-hal tidak masuk akal, atau hal-hal yang sebenarnya masih belum seharusnya kita pikirkan. As what I've written on my bio, I'm a High Dreamer. Suka banget dengan imajinasi-imajinasi karena semua hal kadangkala sangat mudah untuk diimajinasikan.
   Dari semua tema dan topik yang sering aku bayangkan, well, imagination I make the most is My Future Life. Siapa juga yang nggak pernah membayangkan kehidupan di masa mendatang. That's why kids have a lot of dreams, a lot of imagination. And you know what, most of them is about their future life. Simplest example, kalau seorang anak TK ditanya, "Nanti kalau udah gede mau jadi apa?" Atau, perhatikan deh mereka saat bermain dengan teman-teman sebayanya. Biasanya, anak-anak perempuan lebih suka main rumah-rumahan, dimana secara tidak langsung mereka berperan menjadi ibu-ibu rumah tangga, atau bermain masak-masakan. Unfortunately, we don't realize it, do we?

   But, that's not the point I will tell you.

Saturday, 26 January 2013

I Call Her "IBU"

I call her "IBU"
Bukan "Mama", bukan "Umi", bukan "Mami", apalagi "Mimi"
Pas masih kecil, aku sering heran "Kenapa aku harus panggil "Ibu", bukan "Mama"?", while so many of them called theirs with "Mama"
Dulu, aku pernah mencoba memanggilnya "Mama", tapi lidahku rasanya pahit, tenggorokanku tercekat. Aku tidak biasa dan rasanya pun tidak steak mahal di resto mewah.
Meski sederhana, tapi aku mencintai panggilan itu.
Because it's so fit to this woman. A woman who has born me.
My Mom. Ibu. Or I often call her "Ibuk".

Sunday, 13 January 2013

Welcome, Homeland!

   Fiuh, and aaalll those exams have been passed. And everyone knows what is the next: GO HOME!

   For people who are from far-far-away-land, going home is such a magical thing. One of them is ME!

Wednesday, 9 January 2013

One More Reason

"... Dia kini berdiri di depan pintu dan melihat ke arahku, seperti mengisyaratkan bahwa akulah yang ingin dia temui. Tanpa berpikir panjang, aku menghampirinya. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia memberikan sekotak susu dan kemudian pergi tanpa melontarkan satu kata pun. Aku terdiam, namun tersenyum dalam hati.
   Detik itu juga aku berjanji pada semesta bahwa aku tidak akan melupakan kebaikannya, dan juga keunikannya yang aku sukai ini. Detik itu, hatiku teguh. Aku akan menyimpannya. Selama jantungku masih berdetak.
   Satu alasan lagi mengapa aku menyukainya...."

- KS