Click If You Want To Know

Monday 18 March 2013

Obrolan Siang

   Siang itu, seperti biasa, saya dan ibu saling bertukar cerita melalui salah satu chat app. We shared a lot of stories, as we never heard and knew. Sebelumnya, kami sempat saling telpon-telponan dan ibu bercerita tentang ulang tahun salah satu sahabatnya, dan bagaimana beliau beserta sahabat-sahabat yang lain memberikan semacam surprise (well, nggak hanya kita juga lho yang bisa kasih surprise, bahkan ibu-ibu 40 tahunan aja masih jaman ngasih hal semacam begituan), and another story about a trip to Thailand. Setelah itu, kami memutuskan untuk melanjutkan aktivitas masing-masing dan obrolan dilanjutkan via chat
   Just an ordinary chatting and daily questions.
   Sampai pada suatu ketika, ibu bercerita tentang tante yang baru selesai KKN dan sedang sibuk mengerjakan skripsi. Entah kenapa, rasanya bulu kuduk merinding membayangkan skripsi dan segala tugas akhir. Akhirnya, saya nyeletuk, "Bu, doain saya ntar lulus tahun 2015, trus 2015/2016 saya bisa bawa ibu sama bapak ke Bogor buat lihat wisuda saya." Dan, air mata saya netes aja. Well, mungkin saya pernah bilang di salah satu old post saya kalau saya lebih memilih cepat wisuda daripada lulus SMA karena SMA itu benar-benar magical moments. Entah apakah reaksi ibu di sana biasa saja atau juga terharu seperti saya sampai menitikkan air mata atau malah sebel baca curhatannya anaknya yang ngomongin luluuus mulu, padahal baru juga TPB.
   Setelah agak lama menunggu balasan dari ibu, akhirnya ibu berpesan agar saya jangan mikir yang macem-macem dulu, belajar yang rajin, dan satu, jangan mikir pacaran. Oke, nggak pacaran tapi langsung tunangan sama dokter aja #dikeplakibuk.
   Saat obrolan itu, saya menggenggam materi slide Pengantar Manajemen yang isinya huruf semua, nggak ada angka satupun :') Saya jadi berpikir sambil menghitung pakai jari, apa saya bisa lulus di tahun 2015 hanya dengan merombak keseluruhan isi otak saya yang cenderung science menjadi otak anak sosial yang berorientasi dengan nalar, hafalan, dan hal-hal yang nggak biasa saya lakukan?
   Bukan menyesal sih, tapi saya takut saya tidak bisa melewatinya. Saya sempat punya pikiran buat nyebrang ke univ sebelah, tapi saya pikir, setelah itu saya nggak akan bisa jadi Gubernur BI kalau begitu.
   Well, dan pikiran saya melayang ke obrolan kami sehari sebelumnya.



   Siang itu, kami duduk di bangku yang sama untuk pertama kalinya, menikmati es krim dan panasnya hari itu. Kami saling bertukar pikiran, bertukar cerita, berbagi pengalaman. Sampai pada suatu bagian, ia bertanya alasan saya berada di sini dan memilih jurusan yang saya pilih saat ini. Saya bercerita semuanya, tentang betapa tidak adanya keinginan saya untuk sekolah di kota kelahiran saya sampai akhirnya saya memilih di sini.
   "And how about you?" tanya saya. Bukan sok English, saya seriusan tanyanya pake bahasa Inggris. Because we usually do sort of things.
   Dia yang akhirnya bercerita lebih panjang dari saya. Intinya, tidak seharusnya dia di sini, as I first saw him. Dia punya keinginan untuk bisa sekolah di FTTM ITB, tapi karena dari sekolahnya hanya ada satu ekor yang diterima di sana, alhasil dia cari aman dan berpikir buat nggak membuang kesempatan undangan. Dia akhirnya memilih untuk di sini, di jurusan ini, sama dengan saya. Dalam hati, saya angkat sepuluh jempol ketika dia bilang dia seharusnya memilih FTTM daripada di sini. Cocok, batin saya. 
   Dia memang seharusnya di sana, auranya aja bilang kayak gitu. Dia pernah sekali curhat kalau dia agak kesulitan memahami ekonomi, bisnis, dan hal-hal absurd lain yang bakal dia temukan sampai lulus nanti. Jujur, saya kasihan. Nilai fisika dia jauh di atas rata-rata, sedangkan sampai detik terakhir di sini dia hanya akan menemukan materi yang isinya huruf, nggak pernah ada hitung-hitungan rumit sejenis fisika. Andai saja saya bertemu dengannya lebih awal, mungkin saya akan paksa dia mengejar apa yang benar-benar menjadi passion-nya, bukan memilih hal aman seperti ini. Kalau saya sih masih ada cita-cita lah jadi Gubernur BI, lah dia? Dia bilang, dia benar-benar harus beradaptasi dari awal di sini. As I'm doing now. Tapi, saya yakin adaptasinya lebih parah dan lebih berat. Luckily, dia sekarang punya bisnis kecil-kecilan sebagai awal untuk beradaptasi. Saya harus kasih keprok-keprok buat dia.
   Dalam hati, saya mbatin, apa kalau saya pilih ITB saya juga akan bertemu dia meskipun tidak dalam satu jurusan? Well, Allah Mahatahu dan Allah yang Maha Menentukan siapa berjodoh dengan siapa.
   Tapi, saya masih kesal dia berada di sini. Seharusnya dia tidak di sini. Sekarang. Dia benar-benar salah jalur. Entah kenapa saya yang kesal. Dan dia tidak punya pikiran untuk mencoba lagi tahun ini. "Sayang banget kehilangan 2 semester. Bayangin, 2 semester itu bisa buat apa aja," katanya.
   Saya bener-bener nyesel ketemu dia baru-baru sekarang, karena saya pengin banget bisa meyakinkan dia kalau dia BISA ke sana. Sama seperti meyakinkan seseorang yang mau ke STAN karena disuruh orang tuanya, padahal saya melihat dengan jelas seperti apa jiwanya. Bukan jiwa-jiwa orang STAN, not at all.
   
   Dan, dengan lafal Bismillah, saya mendeklarasikan diri saya bahwa SAYA BISA LULUS 2015, dan bukan sekedar lulus.
   Untuk kamu, semangat juga, ya, melewatkan tahun-tahun berikutnya yang saya yakin jauh lebih berat. Semoga kita bisa melewatinya bersama, dengan ikrar satu angkatan bersama, bahwa kita bisa lulus kurang dari 4 tahun. Sebagai salah satu anak yang ingin ke tempat yang kamu sempat impikan, saya merasa kita senasib sepenanggungan. Another story of our radar. Saya yakin, kita semua pasti bisa. Pasti. :)



No comments: