Click If You Want To Know

Wednesday, 31 December 2014

Random Special Tahun Baru!


   Hey there, I’m back! *nyapuin sarang laba-laba*

   Yes, this is my random post for new year edition! *okelah post pertama tahun baru belum-belum udah random ajah*

   Setelah berbulan-bulan disibukkan dengan tugas turun lapang untuk 7 mata kuliah, laporan kelompok mingguan, tugas individu setiap minggu yang bergantian tiap mata kuliah, kepanitiaan yang tak berujung dari ospek di bulan Agustus sampai acara olimpiade olahraga fakultas yang berakhir bulan Desember, langsung lanjut Ujian Akhir Semester, akhirnya saya bisa memposting tulisan yang bener-bener ‘bener’. Karena saking sibuknya tiap hari tiap minggu, saya sama sekali nggak sadar ini udah di penghujung tahun aja. Dan postingan selama setahun ini................... *mingkem ngeliat archieve*

   Ada kebiasaan yang saya lakukan setiap memasuki penghujung tahun seperti ini. Yess, New Year Resolutions! Tapi sepertinya untuk tahun depan, resolusinya sedikit berbeda dari biasanya. Biasanya saya mendaftar apa saja yang ingin saya targetkan selama setahun ke depan. Kini? Ah, banyak sekali target yang ingin dimasukkan sebenarnya. Tapi, setelah menelaah kejadian satu semester terakhir ini, saya pikir-pikir ulang. Beneran manusia itu maunya banyak banget ya, tapi nggak kebanyakan nggak lihat proporsi/kemampuan dirinya sendiri. Contoh real, saya.

Saturday, 18 October 2014

Liebster Award (Versi Telat)


   Jadi ceritanya nggak ngeh pas Ines sama Onil tiba-tiba nyuruh buat ngecek blog mereka. Kirain ada tugas negara apa, ternyata yang beginian, haha. Ada sih sejenis begini di Instagram and I've just done that couple days ago and it's quiet fun! And I think this time is much more fun! Soalnya saya suka banget kalo disuruh nulis dan cerita. Since I was tagged by Onil, Santi, and Ines, and I (finally) have quiet a lot of time, I'll do my challenge to answers 11 (times 3 people means 33) questions. Udah kayak artis lagi di-interview aja ya, lol.

Monday, 13 October 2014

Setiap


Setiap tetes air yang turun dari wajahmu
Setiap niat yang kau bisikkan dalam hati
Setiap tekad yang tergantung di depan dahimu
Setiap mimpi yang ingin kau raih
Setiap doa yang terpanjat dari tiap malammu
Setiap usaha yang kau perjuangkan

Friday, 12 September 2014

A Letter To A Man

Dear Man,

   I really don't know what to tell you, how to thank you for everything you've been done in my whole life. And now you're getting older makes me have so many things to think about, especially how to keep struggling and maintaining my family with my own way. I know it hasn't been my turn yet, but my heart and my mind always say that it's your time to be independence and to think about your family.

Sunday, 17 August 2014

Happy Independence Day, Indonesia!

   First of all, I've already been back here in Bogor because I have so many responsibilities to do here for these 2 weeks. And I feel so jet lag here.

   Second, it's quite something for me to write a post right after I'm waking up. Well, I've been awaken by chats for two days. Yeah, those chats really something that usually I couldn't wake up this easy by the sound of incoming chats.

   Third, well, I have to say this.

Thursday, 7 August 2014

Random Part 9

   It's very early morning when suddenly there's something coming to my mind. Setelah sehari mengkhatamkan dua novel Tere Liye (Al-Qurannya kapan khatam btw, Ret?), ada yang membuat hati saya sedikit tergerak untuk menuliskan postingan random. Ya, random karena saking abstraknya topik yang akan saya tuliskan, lol.

   Jadi, beberapa hari ini saya sering bolak-balik Gramedia untuk mengecek apa buku yang saya tunggu sudah available atau belum, dan ternyata belum. Dan, saya cukup kecewa karenanya. Untungnya masih ada novel Tere Liye yang belum pernah saya baca di kumpulan buku 'Best Seller'. So, I grabbed it, and I 'ate' it clearly until this morning. Salah satu novelnya punya judul yang sangat indah, that's really a beautiful title, tapi entah mengapa saya 'kurang' suka isinya. Bukan karena storyline-nya jelek, sangat bagus. Keren bahkan. Cuman saya sedikit sensitif dengan genre yang dibawa: percintaan.

Saturday, 26 July 2014

Curhatan dari Dalam Hati Banget: Sebuah Kekecewaan

   Pada beberapa postingan sebelumnya, saya sempat berkata akan membuat postingan tentang curahan hati saya paling dalam mengenai apa yang waktu itu sedang memanas di social media manapun. Entah mengapa semuamuanya ribut dan banyak opini yang menjelek-jelekkan. Okay, you know what I mean. PEMILU CAPRES 2014.

   Plus satu lagi, serangan agresi Israel pada Palestina di jalur Gaza. But, this one is not as "hot" as the first one.

   Jadi, ceritanya kebetulan saya ada di warnet dan lagi fokus mengerjakan sesuatu. Sekalian saya buka beragam socmed saya (cuman dua sih sebenernya, plus blog waktu itu). Timeline saya isinya full tentang dua berita itu.

Tentang Rindu Entah Untuk Siapa

Semesta tahu itu rindu, tapi entah kepada siapa

Apakah kamu merasakan sesak yang membebat dadamu hingga kamu tak sanggup untuk menahannya? Sayang, itu rindu. Tapi kepada siapa?

Sejenak satu dari seribu nama yang kamu tahu tiba-tiba mengisi aliran kapiler-kapiler otakmu, beserta darah dan seluruh sari-sari metabolisme tubuhmu, membuatmu semakin penasaran pada sosok yang memiliki nama indah itu. Hatimu ragu bahwa itu rindu. Rindu untuk siapa?

Bagaimana Bila Kamu yang Membuatku Jatuh Cinta


Coba dengar,
Selama ini kamu bercerita uring-uringan dihadapanku
Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu
Tentang rindu-rindumu yang tertahan
Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang
sebab, kamu perempuan
Tidak dan jangan memulai duluan, katanya

Batas

Kau dan aku saling berbagi punggung
Kita menatap langit yang berbeda, berlawanan
Kamu menatap langit di atas sebuah bayang,
dan aku menatap langit lainnya di atas sebuah bayang lain
Aku tak pernah menghadirkan sekat di antara punggung kita, tak mau
Biarkan angin menyelip sesuka hati di antara keduanya
Dan menggelitik geli semua imajinasi yang kita buat
Batas kita hanya seuntai garis imajiner yang tipis dan beku
Biarkan aku yang meniupkan angin tipis dari belakangmu
Tanpa perlu kau melakukan hal serupa
Karena ketika kau pernah sekali menyerobot masuk dan membisikkan kata,
Kata itu terpatri di dasar hati
Maka bayang di hadapanku kini semakin pekat membentuk pola yang tidak kuhendaki
Aku tak ingin pola itu membentuk batas tebal di antara punggung kita
atau malah menghapus segala batas yang kita sepakati
Biarkan aku tahu apa yang aku tahu
Biarlah kau tahu apa yang kita tahu
Tanpa perlu aku tahu apa yang hanya kau tahu: bayang di depanmu